Postingan

Kembali

Entahlah, rasanya baru kemarin pesan-pesan itu dipertemukan Entahlah, tapi keadaan sekarang begitu memilukan Aku kembali, Kembali menguatkan Kembali meneguhkan Kembaliku, kepada diriku.

Kabar

Bukan suatu keharusan Bukan pula suatu yang mesti dilakukan Bukan apa-apa Bukan sesuatu  Namun,  Namamu ada, ketika aku sedang duduk Namamu ada, ketika aku sedang berjalan Namamu ada, ketika aku sedang berurusan dengan segala kesibukan  Namamu ada, ketika aku sedang membolak-balikan lembar halaman buku Bahkan namamu ada, ketika aku sedang tidak memikirkanmu Dari segala yang hidup,  Yang secara disengaja maupun tidak disengaja Yang tak terduga-duga, hingga aku mencoba untuk menerka-nerka  Setiap perbincangan bertema dirimu  Lantas, pendengaranku menjelma hamparan kekeringan yang senantiasa siap sedia dihujani oleh segala perkara tentangmu Ada yang ingin aku tanyakan Tapi kendali mengingatkan kembali Namun hidup, ialah segala hal yang tak terduga-duga  Telah aku terima dari berbagai seru ; kabarmu.

Saban Nafas Manusia

Ada yang membatu sembari mengutuk temu Meredupkan setiap ada terang yang datang Memutuskan yang hendak menyambungkan Dan lalu, Kala malam gelap mampu meluluhkan sesak yang mendekap Diujungnya, Sang fajar menyambut dengan menawarkan nafas kehidupan Hendaklah memahami, Cerita yang kiranya fana Barangkali kelak bersenyawa Namun, Mestilah memahami, Tak selamanya langkah mesti searah Kau dan Aku, Menjelma fana yang nyata

Ujung

Dari syahdu angin yang perlahan-lahan membuat dedaunan mendayu-dayu, serupa nada yang berirama dan menjelma cerita  tentang dua anak manusia.  Pada langkah seseorang yang penuh hati-hati bersama hati sang pujaan, katanya.  Duhai dambaan..  Hendaklah memahami, jarak tak selamanya sebagai pemisah  Hendaklah memahami, waktu tak selamanya sebagai jawab Hendaklah dua kepala manusia yang asanya kini menjadi bunga tidur

Dua Hamba Tuhan

Tiada lagi kita?  Yang ada hanya ikatan pelik antara dua anak manusia Tiada lagi,  Aku tidak mengutuk jarak  Aku tidak mengutuk waktu  Namun, Aku mengutuk rindu untuk menghanguskan segala bentuk temu Tiada lagi,  Hasratmu menggebu Laraku menjerit  Langkah tak lagi syahdu  Aksara dengan haru melukis jejak Kau dan Aku  Tiada lagi,  Kau Aku; Abu.