Postingan

Bu Novi

        Aku ingat saat masih duduk dibangku sekolah dasar, seorang guru perempuan tiba-tiba bertanya kepadaku, ”Kamu rumahnya bukan di daerah sini ya?kok pulangnya sendirian?” begitu tanyanya. Ahh, sepertinya guru ini bukan secara tiba-tiba bertanya, ia nampaknya memang sudah memperhatikanku. Dengan segala rangkaian kata yang ada dipikiranku, aku mencoba untuk merangkai kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. “Orang tua aku kan sudah bercerai, Bu..”, belum sempat aku menjelaskan hingga selesai tentang jawabanku, dikerumunan ruang kelas yang bising dengan suara anak-anak   sekolah dasar sewajarnya, lalu Bu novi mengajakku untuk berbicara empat mata di ruang kelas sebelah yang memang sedang kosong. Rasanya tidak aneh bagiku, namun satu yang aku coba pahami dari dirinya adalah bahwa ia ingin mengetahui dan mencoba untuk memahami akan diriku, saat itu aku sebut saja bahwa ia khawatir dengan anak berusia sekitar 8 tahun dengan keadaan keluar...

Tanda Tanya

Sewaktu-waktu, manusia memang layak diberi kecewa. Anggap saja sebagai bentuk dari penyadaran agar tidak terlampau akan segala harap-harap. 

Kembali ke Masa

Gambar
Dan lagi. Bagiku, ini tetaplah menjadi hal yang mendebarkan.  Meski sedang tidak berdekatan apalagi berhadapan, namun melihatmu yang melihat keseharianku melalui ponsel cerdas, tetap saja membuatku berdebar. Berdebar dengan penuh rasa syukur, sebab kabar yang ingin aku sampaikan tentang keseharianku, sudah kamu temui, dan kabar dirimu pun  sudah aku temui melalui aktivitasmu yang sudah melihat aktivitasku ; meski di dalam maya. Kamu sedang apa? .. Kalau aku sedang sibuk membaca ulang materi pembelajaran, sebab besok adalah hari ujian. Ah, iya, biasanya kalau aku sedang seperti ini, pasti kamu sedang menyiapkan "hal unik" yang senantiasa dipersembahkan untukku, hal yang dapat memberiku semangat untuk menjalani hari. Dan disaat yang bersamaan juga, kamu menjelma pengingat agar tidak lupa dengan rehat. "Jangan dipaksakan sebab istirahat pun penting, usaha serta do'a semoga menyertai" , dan semua itu makna dari setiap pesan yang disampaikan. Seperti biasa, m...

Kembali

Entahlah, rasanya baru kemarin pesan-pesan itu dipertemukan Entahlah, tapi keadaan sekarang begitu memilukan Aku kembali, Kembali menguatkan Kembali meneguhkan Kembaliku, kepada diriku.

Kabar

Bukan suatu keharusan Bukan pula suatu yang mesti dilakukan Bukan apa-apa Bukan sesuatu  Namun,  Namamu ada, ketika aku sedang duduk Namamu ada, ketika aku sedang berjalan Namamu ada, ketika aku sedang berurusan dengan segala kesibukan  Namamu ada, ketika aku sedang membolak-balikan lembar halaman buku Bahkan namamu ada, ketika aku sedang tidak memikirkanmu Dari segala yang hidup,  Yang secara disengaja maupun tidak disengaja Yang tak terduga-duga, hingga aku mencoba untuk menerka-nerka  Setiap perbincangan bertema dirimu  Lantas, pendengaranku menjelma hamparan kekeringan yang senantiasa siap sedia dihujani oleh segala perkara tentangmu Ada yang ingin aku tanyakan Tapi kendali mengingatkan kembali Namun hidup, ialah segala hal yang tak terduga-duga  Telah aku terima dari berbagai seru ; kabarmu.

Saban Nafas Manusia

Ada yang membatu sembari mengutuk temu Meredupkan setiap ada terang yang datang Memutuskan yang hendak menyambungkan Dan lalu, Kala malam gelap mampu meluluhkan sesak yang mendekap Diujungnya, Sang fajar menyambut dengan menawarkan nafas kehidupan Hendaklah memahami, Cerita yang kiranya fana Barangkali kelak bersenyawa Namun, Mestilah memahami, Tak selamanya langkah mesti searah Kau dan Aku, Menjelma fana yang nyata

Ujung

Dari syahdu angin yang perlahan-lahan membuat dedaunan mendayu-dayu, serupa nada yang berirama dan menjelma cerita  tentang dua anak manusia.  Pada langkah seseorang yang penuh hati-hati bersama hati sang pujaan, katanya.  Duhai dambaan..  Hendaklah memahami, jarak tak selamanya sebagai pemisah  Hendaklah memahami, waktu tak selamanya sebagai jawab Hendaklah dua kepala manusia yang asanya kini menjadi bunga tidur